Rabu, 01 Desember 2010

Extreme - More Than Words

Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want to
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
Cause I'd already know

What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you

na na na na na na na na na na

More than words

na na na na na na

Now that I've tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close don't ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn't have to say that you love me
Cause I'd already know

What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you

More than words

Jumat, 19 November 2010

Kepada Kamu Dengan Penuh Kebencian*

Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…

aku takut sendirian.

by : Raditya Dika

sumber : http://radityadika.com/kepada-kamu-dengan-penuh-kebencian/

Minggu, 31 Oktober 2010

STUDENTSITE

Studentsite adalah salah satu fasilitas yang berbasis web, khusus untuk mahasiswa gunadarma. Studentsite di gunakan untuk mengetahui kegiatan akademis perkuliahan atau untuk menulis portopolio dengan menggunakan tekhnologi, dengan kemajuan tekhnologi mahasiswa di permudah menyelasaikan tugasnya dengan studentsite ini.ini adalah fitur-fitur studentsite:

Locker : digunakan untuk meyimpan pesan dosen yang diberikan oleh dosen dari mahasiswa yang bersangkutan, Rangkuman Nilai, Jadwal Kuliah, dan Jadwal Ujian.
Address book ; digunakan untuk mengelola email
calender : untuk mengatur jadwal perkuliahan
file manager : untuk mengelola file-file
forum : digunakan untuk bertukar pikiran dan berkomunikasi 
bookmark : tempatuntuk menyimpan alamt URL favourit


kelemahan pada studentsite adalah kita tidak dapat mendaftar ulang secara otomatis, kita harus melapor ulang jika studentsite kita bermasalah dan prosesnya lumayan lama dan susah.
kelebihan pada studentsite adalah kita bisa mendapat informasi lebih banyak lagi seperti tugas-tugas secara online tidak terpaku pada dosen serta dapat melihat indeks prestasi pada studentsite jadi tidak susah-susah pergi ke rektorat, kita bisa mengumpulkan tugas lewat studentsite.

Tari SAMAN

Tari Saman adalah salah satu tarian daerah Aceh yang paling terkenal saat ini. Tarian ini berasal dari dataran tinggi Gayo. Pada masa lalu, Tari Saman biasanya ditampilkan untuk merayakan peristiwa – peristiwa penting dalam adat dan masyarakat Aceh. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Pada kenyataannya nama “Saman” diperoleh dari salah satu ulama besar Aceh, Syech Saman.



Tari Saman biasanya ditampilkan menggunakan iringan alat musik, berupa gendang dan menggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka yang biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah.

Tarian ini dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syech. Karena keseragaman formasi dan ketepatan waktu adalah suatu keharusan dalam menampilkan tarian ini, maka para penari dituntut untuk memiliki konsentrasi yang tinggi dan latihan yang serius agar dapat tampil dengan sempurna.

Tarian ini dilakukan secara berkelompok, sambil bernyanyi dengan posisi duduk berlutut dan berbanjar/bersaf tanpa menggunakan alat musik pengiring. Karena kedinamisan geraknya, tarian ini banyak dibawakan/ditarikan oleh kaum pria, tetapi perkembangan sekarang tarian ini sudah banyak ditarikan oleh penari wanita maupun campuran antara penari pria dan penari wanita. Tarian ini ditarikan kurang lebih 10 orang, dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi.

Pendapat : Tari Saman merupakan tarian asal Aceh yang harus dilestarikan, belakangan tarian ini sudah cukup populer dikalangan masyarakat Indonesia. Tarian ini pun cukup memukau para penonton yang menyaksikannya karena kekompakan dan keindahan gerakan tariannya.

Sumber : http://samanui.wordpress.com/2007/10/17/sedikit-tentang-tarian-saman/

Sabtu, 09 Oktober 2010

Sebuah Tanya

Akhirnya semua aka tiba,
pada suatu hari yang biasa,
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui,
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.

kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri,
melihat hutan hutan yang menjadi suram,
meresapi belaian angin yang menjadi dingin.

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu,
ketika ku dekap kau,
dekaplah lebih mesra,
lebih dekat.

lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi,
kota kita berdua,
yang tua dan terlena dalam mimpinya,
kau dan aku berbicara,
tanpa kata, tanpa suara,
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita.

apakah kau masih akan berkata,
ku dengar derap jantungmu,
kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.

haripun menjadi malam,
ku lihat semuanya menjadi muram,
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti,
seperti kabut pagi itu.

manisku,
aku akan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.


by : Soe Hok Gie